Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ulang Tahun di Atas Pusara

Sebuah Cerpen karya Abduh Sempana

Ulang tahunku yang ke-13, aku menyaksikan luka-luka menganga di tengah gulita. Rintihan jiwa-jiwa meronta pada kesunyian. Hujan deras mengoyak tenda-tenda di pematang sawah, di bawah gunung dan lembah, di jalan raya, dan entah di mana. Ada bayi-bayi mungil di dalam tenda yang kuyup. Ada tetua renta, janda muda, juga gadis-gadis yang terluka hatinya. Suara tangis yang membentang dari selatan ke utara, timur hingga ke barat menusuk-nusuk dada. Ya, tangis bayi-bayi itu. Buaian sang ibu tak lagi sanggup melelapkan mata beningnya. Karena sang ibu juga tersayat-sayat hatinya. Menuggu sang ayah belum pulang sampai jauh petang. Lalu angin bertiup bagai hunusan pedang.

Lindu, setahun sudah ia berlalu. Namun akan selalu terlintas di dalam benak dan pikiran tentang peristiwa hebat itu. Ia akan menjadi sejarah abadi pada setiap sanubari yang sempat ikut merasakan gejolaknya di Pulau Seribu Masjid.  Begitu juga aku. 

Di suatu malam sebelum bumi bergoncang, aku sibuk mempercantik ruang tamu. Dibantu dua adik misanku, Ani yang ekstrovert, dan Ana yang introvert. Saudara kembar tapi beda watak 90 derajat itu memang sudah seperti saudara kandungku sendiri, ia selalu bisa membuatku tertawa dan ceria. Namun, tanpa kusadari malam itu adalah malam terakhir kenanganku bersamanya. 

Hingga pukul 23.00 kami mempersiapan segala sesuatu untuk acara ulang tahunku yang ke-13 esok hari. Ani dan Ana terlihat begitu cekatan menemaniku memasang berbagai assesories ini-itu sehingga semuanya bisa beres dengan cepat. Mereka terlihat sangat antusias. Seakan mereka ingin mengatakan bahwa malam ini adalah malam terakhirnya, untuk itu ia harus berusaha agar bisa membuatku bahagia untuk yang terakhir kalinya. Tapi, sungguh aku tak bisa membaca tanda-tanda pada malam itu.

“Semoga di ulang kali ini, kamu bisa menjadi lebih baik ya, Beb, tentunya semakin cantik, panjang umur, dan apa yang menjadi cita-citamu berhasil,” kata Ana sambil mengguncang pipiku dengan kedua tangannya. 

“Urusan bersih-bersihnya bisa kita dikerjakan pagi-pagi besok kan, Kak,” sahut Ani sebelum akhirnya mereka pulang. Aku mengangguk saja karena mulutku sudah tak bisa berhenti menguap, dan mataku sudah mulai dielus-elus oleh rasa kantuk. 

“O ya, ibuku bilang, besok pagi ambil strauberrinya di rumahku ya, Kak!”  Sambung Ani sambil beringsut pergi. 

Sementara itu ayah dan ibuku juga sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ibu mengukus kue-kue dengan dibantu beberapa orang tetangga. Sedangkan ayah mengupas kelapa juga dibantu beberap orang laki-laki. Terlihat rumahku begitu sibuk malam itu meskipun cuma acara kecil-kecilan. Semua itu tentu demi aku.

Pagi tiba dengan semburat cahaya keemasan mewarnai langit di ufuk timur. Awan tipis-tipis menggelantung bak kapas. Angin sepoi berembus dari sela-sela bukit. Suhu dengan temperatur 13 derajat Celcius menyergap tubuh hingga menggigil, namun tak menghalangi kesibukan di desaku yang pernah terpilih sebagai Destinasi Bulan Madu Ramah Wisatawan Muslim Terbaik pada ajang World Halal Tourism Award (WHTA) di Abu Dhabi.  Desa yang berada pada ketinggian 800-1200 mdpl ini memang akan selalu membuat kenangan indah bagi pengunjungnya. Namun kali ini, bukan kenangan manis yang akan tertulis, melainkan sebuah petaka yang sudah tersurat, yang melumat segalanya. Di mana hari itu bertepatan dengan hari lahirku dan aku harus merelakannya ikut terkubur bersama puing-puing reruntuhan. 

Tak terlihat kejanggalan para hari yang naas itu. Seperti biasa para petani terlihat lalu-lalang untuk pergi mengais rezeki di tanah Tuhan yang terkenal subur. Ada yang ke kebun strauberry, ada yang ke ladang bawang. Para pedagang dan calon pembeli juga hilir mudik sejak penglihatan masih rabun. Kecuali para pegawai dan anak-anak sekolah tidak terlihat berhamburan sebagaimana biasa karena memang hari itu adalah hari Minggu. 

Sementara aku sedang dalam perjalanan pulang setelah kembali dari rumah adik misanku. Pagi-pagi sekali aku ke rumahnya untuk mengambil buah strauberry sebagai oleh-oleh buat tamu yang akan menghadiri pesta ulang tahunku hari itu. 

Aku berjalan kaki menyusuri lorong-lorong di tengah perkampungan Sembalun. Lalu tepat pukul 06.47 Wita tiba-tiba bumi yang kupijak menggeliat. Aku seperti merasakan diriku di atas tubuh naga raksasa. Naga yang sedang terbangun dari tidunya. Mula-mula kukikira hanya geliat-geliat kecil saja, namun ia semakin meronta-ronta. Hingga dalam sekejap pohon-pohon menjadi tumbang, tiang listrik terlentang, bukit-bukit tergerus, sungai-sungai tertimbun. Dalam kondisi itu aku berteriak sekuat tenaga, “Ibuu.......,” tapi seakan aku berteriak di dalam mimpi. Tak ada yang peduli. Orang-orang berlari entah ke mana. Aku sangat kebingungan, antara mau melanjutkan perjalanan pulang atau balik ke rumah adik misanku. Lalu dengan penuh keyakinan aku memilih mengikuti langkah orang-orang yang mencari tanah lapang. Aku berharap ayah dan ibu juga sudah berlari meninggalkan rumah. Karena seingatku ibu masih berada di dapur bersama tetangga menyiapkan hidangan untuk tamu-tamu yang akan datang ke rumah. Sementara ayah menonton acara berita atau ceramah di televisi bila waktu pagi. 

Cahaya matahari tiba-tiba meredup. Awan berarak ke barat seperti bayangan yang akan segera menerkam. Perasaan ngilu menyelinap di dalam hati. Ada tangis yang terdengar dari kejauhan. Tangis itu semakin membesar, lama-lama menghilang, lalu berubah menjadi riak gelombang ketakutan. Suaranya mengiris-iris. Aku semakin tak mengerti apa sebenarnya yang terjadi.

Kulihat rumah kesayangan keluargaku yang semula berdiri kokoh kini sudah tengkurap. Panggung ulang tahunku di ruang tamu juga lebur oleh getaran bermagnitudo 6,4 SR. Rumah megah yang dibangun dengan jerih payah orang tuanku selama puluhan tahun berubah menjadi puing-puing dalam hitungan detik. 

“Ayah, ibu, engkau masih hidup kan?” Aku mengelilingi rumah beton yang sudah tak berdaya itu. Aku berharap tatapanku bisa menatap ayah dan ibu tersenyum di suatu sudut pekarangan menunggu kedatanganku. Tapi mereka tidak ada di mana pun mataku bertumpu. Mereka kemana?  

Matahari semakin meninggi. Suara sirine Ambulance melengking membangunkan bulu kuduk. Orang-orang pun datang entah dari mana, dengan gelagatnya yang empati dan cemas melihatku kebingungan. Mereka menghampiriku. 

“Adek, cari siapa?”

“Ayah dan ibuku di mana?

“Tadi di dalam atau di luar?”

“Seingatku ibu di dapur, dan ayah menonton televisi.”

Dengan sigap mereka semua bergegas mencari keluargaku. Puing-puing rumah yang tak berdaya itu pun mereka angkat satu persatu. Sementara aku berdiri terpaku. Aku tak berharap ada ayah dan ibu di bawah reruntuhan itu. Aku berharap ayah dan ibu pergi menjauh ke tempat luas. “Ya, Allah selamatkanlah orang tuaku.” Namun, beberapa saat kemudian warna baju yang kukenali terlihat diangkat kepermukaan. Hatiku tiba-iba sesak. “Itu bukan ayah..., itu bukan ayah...” Kemudian saat yang hampir bersamaan tubuh lemas yang dilumuri darah juga dipapah ke pinggir. Aku semakin tak tega melihat pemandangan tubuh yang tercabik-cabik oleh himpitan beton bertulang itu. lantas jiwaku meronta-ronta. “Itu bukan ibu...., itu pasti bukan ibu...” Selepas  itu aku tak mampu mengingat apa-apa lagi. Lalu sunyi.

Saat malam aku terbangun dan berusaha mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Sesaat aku mengenali bayangan kejadian tadi pagi, aku sangat berharap itu semua adalah mimpi ngeri di siang bolong. 

“Jannah sudah sadar,” sayup-sayup suara kudengar.

“Jannah...” Tiba-tiba sebuah pelukan mendekap erat tubuhku yang kurasa dia adalah ibuku. 

“Kamu selamat, Nak, kamu selamat,” katanya sambil menumpahkan air matanya di punggungku hingga basah kuyup.

“Bibik, ibu di mana?” tanyaku, tapi bibi malah tidak menjawabku. Ia terus mengusap-usap punggungku. 

“Ayo, jawab, Bik, ayah dan ibuku di mana, kok mereka tidak ada di sini. Apa mereka ada di tenda yang lain?”

Bibik belum juga bisa mengeluarkan kata-katanya. Lalu sesaat kemudian, dengan linangan air mata dan bibir yang terbata-bata, bibik bercerita kalau ayah dan ibuku sudah dikubur tadi siang. Mereka berdua terjebak di dalam rumah yang cukup luas sehingga tak cukup waktu untuk bisa keluar saat goncangan besar terjadi. Berikutnya, Ani dan Ana juga sudah tiada, kata bibi. Kedua anak kesayangannya itu juga tak mampu menyelamatkan diri saat berada dalam kamar yang terkunci. Pesan terakhir kedua sepupuku itu masih saja terngiang di telingaku hingga kini.

Aku menghela nafas berat. Biji mataku ingin segera melompat meninggalkan kelopaknya. Kemudian mengalirkan darah yang bercucuran dari urat-urat saraf kornea. Karena air mata biasa sudah tak mampu lagi untuk melampiaskan perasaan di hati. Darahku terasa terhenti. Otot-ototku seperti dialiri oleh racun. Aku lemas tak bedaya dalam pelukan bibik.

Aku bangkit dan berdiri tegak di pelataran yang sunyi. Menerka-nerka makna setiap ayat-Nya. Mengeja huruf-huruf-Nya. Lalu mencoba memilih untuk terpejam, tapi luka di dada masih menganga. Lalu aku memilih diam seribu bahasa.

Kini pada usiaku yang ke-14 tahun, aku tak bisa lagi merayakan ulang tahunku seperti dulu. 29 Juli kelahiranku, 29 Juli bumi bergoncang, 29 Juli orantuaku pergi untuk selamanya. Begitu pula Ani dan Ana meninggalkanku. Maka, di atas pusara ayah dan ibu, dan di bawah pohon kamboja yang teduh, akan selalu kurayakan dzikir dan doa-doa panjangku. 

***

Sumber: Buku kumpulan cerpen "Lelaki di Ujung Sunyi

BASINDON
BASINDON Blog pelajaran bahasa Indonesia SMP/MTs (materi, soal, dan perangkat pembelajaran), serta Pengetahuan Bahasa dan Sastra Indonesia (umum)

Post a Comment for "Ulang Tahun di Atas Pusara "