Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Indonesia Darurat Buku? Berikut Ini Data Terbaru di Tahun 2022

Budaya literasi menjadi hal yang sangat fundamental karena dengan literasi kita bisa mewujudkan masyarakat yang berpengetahuan yang kreatif, inovatif, dan berkarakter. Dalam kemampuan literasi yang mempuni juga akan membantu manusia secara personal maupun komunal dalam menghadapi dunia virtual yang semakin hari semakin kompetitif dan smart. Demikian yang diungkapkan oleh Deputi bidang pengembangan Perpustakaan Nasional RI, Drs. Deni Kurniadi, M. Hum, dalam acara webinar Duta Baca Indonesia bertema Indonesia Darurat Buku (25/05/2022)

Mengingat pentingnya budaya literasi tersebut pemerintah terus menggalakkan program-program literasi. Sehingga di tahun-tahun terakhir sangat dirasakan dampaknya. Indikator pentingnya yaitu tingkat gemar membaca masyarakat Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Di tahun 2021 mencapai 59,52 dari skala 0-100. Dan ini sudah termasuk peringkat sedang. Padahal di tahun-tahun sebelumnya Indonesia berada di level bawah. 

Namun sayangnya, tingkat gemar membaca masyarakat Indonesia yang terus bertumbuh tidak sebanding dengan jumlah buku yang terbit atau tercetak di Indoensia. Sehinggga Indonesia menjadi sangat kekurangan buku. Itu lah sebabnya Indonesia saat ini dikatakan darurat buku. Hal senada juga diungkapkan oleh Pak Deni Kurniadi ”Indonesia saat ini terjadi kekurangan bahan bacaan,” kata beliau dalam laporannya.

Fakta terbaru tentang ekosistem literasi dan penerbitan buku di Indonesia ini tentu sangat tidak menggembirakan. Sementara tantangan terbesar dalam menumbuhkan kegemaran membaca masyarakat yakni disparitas ketersediaan bahan perpustakaan dan tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia.

Lanjut Pak Deni Kurniadi bahwa saat ini karya cetak dan karya rekam jumlanya mencapai 2.939.008 eks bahan perpustakaan atau buku yang ada di perpustakaan nasional dan perpustakaan di daerah. Karya cetak dan karya rekam yang paling tinggi adalah dalam subyek ilmu sosial, kemudian disusul subyek sastra, dan posisi ketiga adalah subyek ilmu teknologi dan terapan. 

Dan ternyata jumlah capaian koleksi bila tersebut dibandingkan jumlah penduduk Indonesia rasionya adalah 1 : 90 artinya satu buku ditunggu oleh 90 orang. Jumlah koleksi ini masih sangat kurang bila dibandingkan dengan rasio kebutuhan penduduk di Indonesia karena menurut standar UNESCO adalah 1 orang membaca tiga buku baru pertahun. 

Sementara itu jumlah terbitan secara nasional sejak tahun 2015-2020 adalah 404.037 judul. Dengan jumlah penerbit aktif secara nasional 8.969 penerbit. Tiga propivinsi dengan terbitan tertinggi adalah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jogjakarta.

Jumlah terbitan nasional jika dibandingkan jumlah masyarakat Indonesia menghasilkan rasio sebanyak 1: 514, artinya jumlah terbitan secaran nasional tidak mencukupi  dibandingkan dengan jumlah penduduk di Indonesia. 

BASINDON
BASINDON Blog pelajaran bahasa Indonesia SMP/MTs (materi, soal, dan perangkat pembelajaran), serta Pengetahuan Bahasa dan Sastra Indonesia (umum)

Post a Comment for " Indonesia Darurat Buku? Berikut Ini Data Terbaru di Tahun 2022"