Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Atas Posting

Maaf, Saya sedang Belajar Berbicara Soal Integritas, Kalau Tidak Menarik, Tak Mutu, Abaikan!

Beberapa hari yang lalu saya telah mendapat info dari seorang teman, sebut saja namanya Pak Hipni. Halo Pak Hipni, apa kabar! Bahwa ada lomba menulis untuk guru. Lomba tersebut diadakan oleh koran Radar Lombok yang bekerja sama dengan Pemprov. Nusa Tenggara Barat. Lalu saya bertanya tentang apa temanya? Teman saya yang juga seorang dosen tersebut tidak memberi tahu langsung, tapi berjanji akan mengirimkan screnshot-lewat facebook. Lalu beberapa menit saja info lomba lengkap bersama syarat-syaratnya itu saya terima di wall facebook. Dan setelah saya baca ternyata temanya adalah “Membangun Karakter Generasi Muda Melalui Pendidikan yang Berkaraker”.

Menurut saya tema tersebut cukup menarik, dan sebetulnya saya pernah membuat tema yang hampir serupa yang pernah terposting di blog pribadi saya. Namun bedanya saya menulisnya dalam bentuk berita.

Lalu di sini saya tidak membicarakan soal info lomba itu, tapi saya cuma terarik soal integritas itu tadi. Sepertinya ada yang perlu saya korek-korek sedikit.

Berbicara soal integritas memang menurut saya seperti membicarakan aib sendiri. Mengapa? Karena apa yang kita (oleh sebagian sekolah) lakukan selama ini adalah sebuah pembodohan. Saya melihat sekolah-sekolah berupaya untuk meluluskan siswanya dengan cara apa pun, termasuk dengan membeli bocoran nilai. Oleh karena itu saya menganggap pembicarakan soal intergritas seperti memakan buah si malakama. Tetapi memang harus (wajib) dibicarakan, sebab soal kelangsungan nasip anak bangsa dan bangsa itu sendiri.

Menurut saya soal intergritas jauh lebih unggul di tahun-tahun 90-an. Karena saat itu saya sedang masih sekolah dan berkesempatan mengikuti ujian. Saya tidak pernah melihat suatu kecurangan di tengah-tengah ketegangan ujian. Jauh berbeda dengan yang sekarang, yang menjawab soal justeru adalah gurunya. Jadi yang ujian itu gurunya, bukan siswanya.

Saya rasa, untuk yang terjadi saat ini cuma soal prestise. Ini soal harga diri sekolah, kecamatan, kabupaten, sampai kepada harga diri sebuah provinsi. Hanya saja mereka salah menafsirkan angka-angka (nilai).

Lalu bagaiman kita bisa meningkatan integritas?

Integritas harus dibangun dari dasarnya, dari akar-akranya. Kebiasaan mencotek siswa di tingkat SD akan berlanjut hingga ia tumbuh dewasa, dan itu akan terus terjadi pada dirinya saat masuk kuliah nanti.

Maka, untuk mencapai integritas, siswa harus dibiasakan bekerja keras. Siswa harus dibiasakan berpikir secara kritis. Mereka harus tau  bahwa suatu hasil tidak bisa datang dengan sendirinnya. Melainkan melaui proses belajar. Emang sih.

Oleh sebab itu tidak mestinya siswa itu berperan sebagai penerima ilmu (patient), tetapi sejatinya ia harus menuntut ilmu. Dan guru lah yang mengarahkan, membimbing untuk bisa memperoleh ilmu yang dicarinya itu.

Siswa pergi ke sekolah bukan untuk belajar, tetapai untuk menunut ilmu. Lalu apa bedanya belajar dengan menuntu ilmu?

Belajar itu, menurut saya terlalu luas cakupannya. Untuk kasus belajar, bisa saja belajar mencopet, belajar jadi orang curang.  Tapi kalau pergi menuntut ilmu, berarti sudah tidak ada alasan untuk menyebut hal yang kurang baik.

Menuntut ilmu itu mencari ilmu yang terkadung di dalam sebuah buku (kitab), atau di seluruh alam semesta ini. Jadi, saya kira boleh dikatakan, seharusnya kata belajar itu diganti saja dengan menuntu ilmu. Sekali lagi kalau bisa. (Ngaco deh).

Nah, kalau begitu kita bicarakan saja kedua istilah itu. Siapa tau mengena atau malah menyimpang. Terserah. Kita tinggalkan dulu integritas.

Belajar vs Menuntu Ilmu

Selama ini kita sering menggunakan istilah yang mana?

Contohnya: wajib belajar 9 tahun, belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, jam belajar, kegiatan belajar mengajar, belajar pagi. Kita tidak pernah mendengar istilah wajib menuntu ilmu 9 tahun, menuntu ilmu di siang hari. Jadwal menuntu ilmu, yang kedengarannya lebih spesifik, tapi aneh juga sih.

Menuru saya, belajar itu tidak pasti menuntut ilmu, namun sebaliknya, menuntut ilmu pastinya belajar. Tidak ada perbedaan secara eksplisit, tetapi secara impilist jauh dan sangat jauh.

Orang atau peserta didik bisa saja belajar matematika, belajar bahasa, belajar mencontek, belajar korupsi, belajar jadi maling. Di lain pihak, para pelajar bisa menuntut ilmu matematika, menuntut ilmu bahasa, tetapi tidak  bisa menuntu ilmu copet, menuntu ilmu korupsi, kedengarannya sangat janggal. Kenapa? Karena itu memang bukan pasanganya (mungkin). Jadi, tepatnya bagi orang yang belajar sebenarnnya adalah menuntut ilmu. (Menurut saya sih)

Kalau orang sudah menuntu ilmu, itu artinya ia sedang belajar ilmu-ilmu yag baik, tetapi kalau orang yang sedang belajar, itu kan masih ambigu. Bisa saja siswa sedang belajar pacaran di sekolah. Tidak mngkin kan, kalau seorang siswa menuntut ilmu pacaran.

Apakah ada hubungannya dengan integritas?

Maaf, Saya sedang Belajar Berbicara Soal Integritas. Kalau Gak Menarik, Abaikan!
BASINDON
BASINDON Blog pelajaran bahasa Indonesia SMP/MTs (materi, soal, dan perangkat pembelajaran), serta Pengetahuan Bahasa dan Sastra Indonesia (umum)

Post a Comment for "Maaf, Saya sedang Belajar Berbicara Soal Integritas, Kalau Tidak Menarik, Tak Mutu, Abaikan!"