Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Atas Posting

Mengikuti Pelatihan Menulis Puisi dalam Rangka Pemecahan Rekor Muri Penulisan Puisi untuk Guru


Alhamdulillah, saya kembali bisa mengikuti kegiatan pelatihan menulis puisi secara daring. Yaitu pelatihan dalam rangka memecahkan rekor muri menulis puisi tentang guru. Acara tersebut digagas oleh Sip Publihing, kemudian didukung oleh Yayasan Rumah Indonesia Menulis, Ikatan Guru Indonesia, dan Perpusnas.

Acara ini sekaligus ajang adu bakat menulis puisi bagi peserta yang mendaftar dan mengirimkan puisinya. Selanjutkan bagi peserta terbaik akan diberikan hadiah uang tunai. Total hadiah yang akan digelontorkan oleh panitia adalah 15 juta rupiah. 

Acara pelatihan daring yang dimulai dari pukul 19.00 – 21.00 WIB tersebut saya ikuti dan simak langsung dari ruang zoom dengan serius. Kegiatan dimulai dengan pembukaan oleh host yang luar biasa bagus publik speakingnya sehingga membuat suasana menjadi ceria meskipun kegiatan dilakukan malam hari.


Kemudian dilanjutkan dengan kata-kata sumbutan. Sambutan pertama disampaikan oleh Indra Gunawan, S.IP., M.AP, selaku CEO Sip publishing. Lalu disusul oleh Prawiro Sudiro dari Persatan Guru Indonesia (IGI).

Dan acara yang dinanti-nantipun tiba, yakni penyampaikan materi pelatihan oleh Gola Gong, Dua Baca Indonesia saat ini. Beliua juga adalah seorang penulis Novel. Karya novel beliau yang pernah saya baca adalah Balada Si Roy. Novel tersebut juga sempat difilmkan. Kemudian saya juga pernah membaca Gelisah Camar Terbang. Kedua novel tersebut menurut saya sangat bagus, salah satu indikasinya adalah ketika saya tidak ingin berhenti membacanya sampai habis.

Dalam penyampaian materi Gola Gong banyak memberikan bocoran terkait kisi-kisi perlombaan puisi yang tengah diselenggarakan. Pertam-tama beliau menyampaikan bahwa ketika menulis puisi tentang guru, hindarikan gaya menulis seperti di bawah ini

Misalnya: 
Guru
Kau adalah cahaya penerang
Kau bagaikan lilin di kegelapan
Tanpamu tak akan aku sukses

Menurut beliau gaya seperti itu kurang pas. Itu seperti pengumuman. Dan beliau menganjurkan agar peserta menulis dengan lebih banyak menggunakan simbol-simbol.
Beliau mencontohkan dengan salah puisi karangan beliau

Di jalan tanpa lampu, langkahku gamang
lilin menyala menerangi tanpa kuminta
dimulai dari alif ba ta
dunia terbuka
datanglah huruf-huruf penuh luka
hatiku pun bergelora
 
Kupertahankan apinya
walau kecil
tak padam-padam
membuat jalanku perlahan jadi terang kakiku berani melangkah menuju cita-cita
Aku mengenang pengorbanannya
dia tak pernah minta tanda jasa baginya
 
*) Tegal, 9 Juli 2026

Dari penjelasan Gola Gong terkait cara menulis puisi tentang guru di atas, para peserta pelatihan merasa tercerahkan. Beberapa peserta bertanya sambil menanggapi bahwa selama ini banyak di antara kami (peserta) yang keliru dalam menulis puisi tentang guru. Namun Gola Gong sendiri tidak menyalahkan, tetapi beliau mengatakan bahwa memang ada beberapa tingkatan dalam menulis puisi. Menulis dengan cara pengumuman itu termasuk tingkat I. Sementara beliau menginginkan peserta naik kelas yakni menulis dengan gaya tinggkat II.

Nah, itulah beberapa hal yang bisa saya tangkap saat mengikuti kegiatan pelatihan menulis puisi secara daring di ruang zoom. Lalu rencananya usai pelatihan peserta akan menulis puisi lalu mengumpulkan sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Kemudian puisi terpilih akan dibukukan bersama karya Gola Gong. 





BASINDON
BASINDON Blog pelajaran bahasa Indonesia SMP/MTs (materi, soal, dan perangkat pembelajaran), serta Pengetahuan Bahasa dan Sastra Indonesia (umum)

Post a Comment for "Mengikuti Pelatihan Menulis Puisi dalam Rangka Pemecahan Rekor Muri Penulisan Puisi untuk Guru"